Tag

No person, Sara,& Politik.

Sejarah…dibuat berdasar kan manuskrip,catatan2 dan hubungan antar kekerabatan. Jadi kesimpulan nya, bukanlah meng ada2, apalagi merekayasa.
Ditengah kesemerawutan dari banyak nya pengakuan2. Maka terkumpul lah sedikit banyak nya, data pelengkap, tentang ada nya sejarah ini. Baik yg bersumber dari yg bersangkutan, maupun bukti2 dari yang masih tersisa. Selanjut nya, demi mengurai kekisruhan yg sering terjadi di masyarakat adat, yg menyangkut di masalah keadatan yg ada sekarang. Maka..izinkan saya menuliskan sedikit keterangan yang mungkin agak menyimpang dari yg sudah di ketahui oleh umum.

Yaitu,mengenai kesatuan adat atau kland, yg kalau di daerah Belalau Lampung barat,kland kesatuan adat ini, bernama # GEMUNTUR_AGUNG_ Didirikan oleh ‘Adipati Raja Paksi. Anak lelaki dari Pun Semula Raja bin Mpu Jadi/ Sijadi helau/Semula jadi. Di daerah Cukuh Tekhegak Belalau,setelah ber akhir nya perang saudara,antara Adipati Raja Paksi dg sdr ipar nya sendiri. Perlambangan atau Panji panji adat. Lukisan gambar Kijang yg menyisiri tebing,( Kijang Nelipit tebing) dan kilatan petir. Orang dahulu,ketika membuat nama,gelaran,adok.tentu mempunyai arti falsafah yg kebenaran nya selalu terbukti. Maka sesuai dg nama nya ‘ GEMUNTUR AGUNG ” atau secara harfiah nya,bermakna ‘Guntur besar’. Maka..sifat dari/alam, seperti hal nya ‘Guntur’ tsb,juga ikut mewarnai perjalanan hidup nya kland ini.
Arti nya, hanya ada suara dan kilatan petir,sesudah itu menghilang. Demikian juga hal nya dg kland ini. Yang tinggal hanya sebuah nama,namun orang2 nya tersebar ke mana2.
Adapun hal nya dg saudara ipar nya, dikenal dg sebutan nama Tuan Pak Lang, seorang perantau dari Dharmasraya( ketr: Batin Syafei,alm Buay Belunguh ) Keributan dan kesalah fahaman itu berhasil didamaikan. Di ikat dg perjanjian yg bernama Perjanjian ‘ Belah Helau ‘ belah atau berpisah secara baik2.namun jika dikaji secara fakta,sesuatu hal yg sudah terbelah itu susah untuk disatukan. Namun isi dari perjanjian tsb,sangat merugikan fihak Adipati Raja Paksi. Adapun garis besar perjanjian tsb berbunyi..’tidak memerintah, tapi tidak di perintah’ .Setelah keadaan mereda ,Tuan Pak Lang dan pengikut nya berpindah membuat permukiman baru yg terletah di daerah yg bernama ‘ Atar Hanibung’. Ditempat baru itu dia memproklamirkan kesatuan kland nya dg nama ‘ Kebuayan Se Para Nong,(kumpulan semua Nong ) Atau sekarang lazim disebut dg nama Buay PerNong. Beliau diangkat menjadi raja di kebuayan Pernong, dg gelaran Raja Selalawa Sang unguru.dan untuk kebuayan adik ipar nya yaitu Adipati Raja Paksi, mengingat sewktu terjadi nya peperangan,fihak adik nya menyerbu musuh,meminta Keanyangan, atau minta supaya musuh nya menyerang,karena fihak musuh melarikan diri dari kancah peperangan. Maka untuk mengingat hal itu, mereka di gelari Buay Ke anyangan( atau Kanyangan). Akibat isi perjanjian yg di artikan sangat menguntungkan, bagi fihak ‘Raja Selalawa, maka banyak dari pengikut Adipati Raja Paksi,merasa kurang puas. Mereka menganggap kalau Sang Adipati ,terlalu lemah,dan lain lain.
Hal tsb..membuat Adipati Raja Paksi,mengasingkan diri dan ghaib,menghilang tidak diketahui kemana arah pergi nya.

Masa demi masa berganti,sejarah kehidupan pun bergulir,dan semakin hilang serta hampir terlupakan. Cerita pun berubah…. Versi nya menurut siapa yg berkuasa pada waktu itu. Sampai masuk nya ‘kaum penjajah kolonial di era abad 18.Kekuasaan negri atas nama wilayah yg dinaungi oleh keadatan,diganti oleh pemerintah kolonial dg system ‘kepala marga. Yang di pimpin oleh seseoran yg di sebut Pe sirah.Seorang Pasirah dipilih oleh rakyat,jd bukan berdasarkan keningratan.Mungkin untuk memudah kan pengontrolan wilayah,makamarga Anak Mesali iwa atau Seliwa dan Maraga Belalau (Batu berak) di gabung menjadi satu ke Pesirahan. Namun setelah Belanda hengkang,kepesirahan initidak lagi ditentukan oleh pilihan rakyat. Pemerintahan nya kembali ke system kerajaan. Raja raja pada setiap buay,memerintah rakyat nya sendiri2. Lain dg beberapa kebayan yg ada di Sumatera selatan,pemilihan Pesirah ini masih berlangsung sampai berakhir nya pemerintahan Orla
Di zaman kolonial inilah,banyak bukti2 sejarah menghilang atau dihilangkan. Diganti dg sejarah versi baru,yg tentu saja menurut kehendak yg menjadi pucuk pimpinan Marga.
Begitu juga dg adok gelaran adat,maka dikarenakan terdapat banyak gelaran Raja,pada bawahan nya.Maka..untuk pembeda bahwa ‘dia’ adalah Raja tertinggi dari Raja2 yg lain. Adok atau gelaran nya pun berubah menjadi ‘ Sultan’ atau ‘Suttan’ . System kekuasaan memerintah pun berubah,kalau dulu system yg dipakai berprinsip,kekeluargaan & gotong royong atau ‘ Sakai Se ambaian’ maka nencontek dr system kolonial,di ciptakan lah U.U.dan peraturan2 yg membuat rakyat takut,Pernah ada terbaca ” kalimat pepancor disalah satu kebuayan yg berbunyi ‘ Pisan sumbah tinggal,te panjin di nekhaka, Piasan Saibatin tisakkal, Lebon hak,lebon suaka.
Kurang lebih makna nya’ Sekali sembah tidak dilakukan,maka ancaman nya Noraka imbalan ,untuk rakyat yg lalai untuk datang bersembah takluk.seperti tdk memenuhi kewajiban upeti pada yg dipertuan. Sekali,sabda perintah dari yg dipertuan,dibantah,dilawan,maka rakyat tsb,akan kehilangan hak milik nya dan perlindungan atas nyawa nya,hukuman nya terbuang dan dikucilkan dr masyarakat&keluarga nya. Ini fakta yg real. Alhasil hal tsb,baru berakhir setelah pendudukan Jepang, menyerah pada Sekutu.

Alhasil.cerita tentang ke anggunan Gemuntur agung pun ikut sirna,dilibas masa,dan berganti dg kisah2 baru. Dan setelah ratusan tahun lenyap dan dilupakan. Sahdan…di era pertengahan tahun 2014,seorang teman (andisofyan_af@yahoo,com) memberi informasi,yg bersangkutan dg sejarah diatas,beliau ini…bercerita kalau dia tinggal didaerah Kalianda Lampung Selatan. Menurut info dr beliau ini,penduduk yg pertama kali berdiam di wilayah Kalianda. Dulu nya hanya terdiri dari tiga buah desa. Yaitu Desa tengkujuh bersal dari Buay Sindi, Desa Maja dari rombongan Buay Runjung,dan desa Kahay,dari Buay Khaja(Raja). Namun menurut teman ini.desa Kahay,sudah lama ditiggalkan.Penduduk nya mengungsi ketika Gunung Krakatau meletus pada tahun 1883 M. Menarik nya dr cerita beliau ini,di Desa Kahay ini terdapat makam seorang tokoh wali dan di keramatkan. Dan yg di makam kan disitu bernama RATU Muhamad Ali,bergelar Pangeran Si Ngebrata atau dg nama lain Raja Gemuntur Agung. Yang hidup di kisaran abad 15. Beliau jg dikabarkan ikut membantu Kesultanan Banten, memerangi kerajaan Pajajaran yg masih beragama Hindu. Nah…dr info beliau ini,ternyata Raja Gemuntu agung.Adipati Raja Paksi,hijrah dan ‘ Ngebrata” (menyepi dan mengasingkan diri) di Desa Kahay Pesisir Kalianda. Demikianlah,ahir perjalanan hidup, Raja Gemuntur Agung, Adipati Raja Paksi. Raja Buay Kanyangan. Keturunan beliau banyak berdiam di Pekon Geringan Belalau Balik bukit Lampung barat ¤

Iklan